Sepatu Bot dari Tuhan
@kang riboet bilang#ributachwandi159@yahoo.com
Hanya
orang yang melampaui batas kewarasan yang akan melakukan itu. Memasang
badan dan menantang serangan puluhan buldozer yang memang disiapkan
untuk merobohkan semua tanaman yang hidup di areal persawahan dan kebun
itu. Meratakannya. Lalu, beberapa bulan kemudian akan ditanami
dinding-dinding beton. Semua sudah disiapkan dengan matang. Begitu rapi.
Tak ada alasan lagi untuk menolak. Percuma saja melawan. Hanya orang
sinting yang melakukan itu. Hanya dia, Sanip!
Kasihan ia. Lelaki tua
yang kehilangan kehormatannya di hadapan keluarga besar Eyang Broto,
seorang tuan tanah yang kaya raya di zamannya.
“Sudahlah, Kang.
Jual saja tanah itu. Serahkan saja pada mereka. Tak ada gunanya
ngotot,” kata Markum, adik kandung Sanip yang sekarang memilih menjadi
seorang Pegawai Negeri pada sebuah kantor pemerintahan. Ia telah lama
meninggalkan sawah, menyerahkan lahannya kepada Sanip, tepatnya
menjualnya kepada Sanip.
“Sekali tidak, ya tidak! Mau diberi makan apa anak sama istriku kalau tanah itu aku jual?”
Mendengar kata-kata Sanip, Markum tertunduk diam. Markum tahu tabiat
Sanip. Ia paling tidak bisa meninggalkan lahan persawahan. Bahkan dulu
ketika Markum membujuk agar Sanip ikut ngantor pada kantor dinas Markum,
selepas Sanip lulus kuliah, hanya dibalas dengan senyuman.
“Tanah
itu, Kum. Tanah itulah yang selama ini memberi kami kesempatan untuk
bertahan hidup di desa ini. Tanah itu bukan hanya warisan Rama kita,
tetapi juga titipan Gusti Allah, Kum. Itu amanat, Kum.”
“Sampeyan itu loh, Kang, kayak nabi saja. Pakai bawa nama Gusti Allah segala?!” sergah Markum.
“Karena aku masih punya iman, Kum!” meski nada ucapan Sanip datar,
kata-kata itu diucapkannya mantap. Tatapannya tajam ke arah mata Markum.
Seolah menelanjangi sanubari Markum. “Assalamu’alaikum,” Sanip berlalu
dari hadapan Markum.
“Wa’alaikumsalam.”
Di desa ini hanya
dia, Sanip. Orang yang paling berani menentang megaproyek itu. Aparat
kelurahan pun sampai kewalahan mengurusi kemauan keras Sanip. Bahkan,
Pak Lurah sudah kehabisan akal untuk membujuk Sanip. Yang menyulitkan
lagi, lahan sawah milik Sanip rupanya berada tepat di tengah-tengah
areal megaproyek yang direncanakan. Padahal, seluruh lahan di sekeliling
tanah milik Sanip sudah dijual dan diserahkan pada pemilik proyek.
Katanya, seorang pengusaha asing yang punya koneksi dengan konglomerat
negeri ini..
“Pak Sanip, saya harap sampeyan memikirkannya lagi
masak-masak. Pembangunan proyek ini punya tujuan baik bagi warga desa
kita. Coba sampeyan saksikan, sudah berapa banyak anak muda di desa ini
yang menganggur. Bahkan, mereka memilih pergi meninggalkan desa, ke
kota. Apalagi, jarang dari mereka yang muda-muda ini mau menggarap lahan
sawah lagi. Proyek ini tentunya akan menyerap tenaga kerja yang luar
biasa besar jumlahnya. Jadi, para orang tua sudah tidak perlu lagi
khawatir dengan masa depan anak-anak mereka,” kata Pak Lurah.
“Justru karena saya berpikir, Pak Lurah, makanya saya tidak mau menjual
tanah itu. Saya ingin mengajari anak-anak saya tidak malu menggarap
sawah. Kalau Bapak tadi bilang, banyak anak-anak muda desa ini yang
tidak mau menggarap sawah, mbok dicari tahu dulu apa masalahnya? Lantas
apa yang seharusnya dilakukan oleh Bapak sebagai Lurah. Bukan lantas
menjual tanah ini kepada mereka yang datang ke sini dengan tujuan yang
tidak jelas itu, Pak,” jawab Sanip.
“Kami sudah berusaha, Pak. Sudah. Tetapi….”
“Tetapi selalu tak ada hasil? Begitu?! Apa Bapak sudah lupa, dulu Bapak
bisa sekolah tinggi sampai bisa menjadi lurah itu darimana duitnya?
Saya kenal betul dengan almarhum ayah dari Pak Lurah. Beliau sangat
tekun menggarap sawah.”
“Mak…maksud….”
“Saya ngerti Pak Lurah.
Saya ngerti. Bapak akan mengatakan, zaman sudah berubah sekarang. Sawah
sudah tidak bisa diandalkan. Begitu?”
“Bukan begitu maksud saya.”
“Lantas apa?”
“Ini masalah serius, Pak. Sangat kompleks,” sebentar Pak Lurah menghela
napas. Menata kembali kata-kata yang ingin diluncurkannya agar Sanip
percaya padanya. “Saya sendiri tidak bisa menjelaskannya.”
“Kalau tidak bisa menjelaskan dengan baik, kenapa proyek itu harus Bapak terima?”
Sanip menatap Pak Lurah dalam-dalam. Itu membuat Pak Lurah semakin terpojok.
“Bisa Bapak jelaskan?”
“Sudahlah, Pak Sanip. Sampeyan jangan membuat saya bertambah bingung.”
“Maksud Pak Lurah?”
“Hari ini saya harus melapor ke Pak Bupati.”
“Soal saya?”
“Soal perkembangan rencana megaproyek itu, Pak.” Sebatang rokok
disumatnya. Satu kepulan pertamanya menutupi hampir seluruh wajah Pak
Lurah, “Jadi, tolong bantu saya Pak. Saya sudah menganggap sampeyan
sebagai orang tua sendiri sejak Rama meninggal.Sampeyan sudah memberi
saya keteladanan tentang bagaimana memahami dan mengisi kehidupan.”
Ucapan Pak Lurah hampir saja melunakkan hati Sanip. Tetapi, ia tak lekas
berubah pikiran, “Kalau begitu, katakan saja pada Pak Bupati, Saniplah
orang yang mustinya ia cari. S a n i p !”
Sanip memang tidak
pernah berusaha menghasut orang-orang kampung. Ia hanya melakukan apa
yang dianggapnya perlu dibela. Bukan apa yang ia anggap sebagai
kebenaran. Ia hanya melakukan darmanya. Kalaupun tak ada yang
mendukungnya, itu bukanlah soal. Karena ia sadar, ia bukanlah seorang
politisi yang butuh dukungan untuk sebuah kedudukan atau pembenaran atas
apa yang ia lakukan. Itulah kenapa orang-orang desa menganggap langkah
Sanip kali ini adalah sebuah kebodohan.
“Pakdhe Sanip, apa sampeyan nggak takut kalau nanti ditembak kayak di tivi-tivi itu?” tanya Tukijan.
“Iya Dhe, di tivi-tivi itu lagi rame loh penembakan warga hanya karena rebutan lahan!” timpal Sugondo.
“Saya tidak merebut lahan! Saya hanya mempertahankan apa yang saya punyai dan dititipkan Gusti Allah pada saya.”
“Wah, Pakdhe Sanip ini sudah seperti Pak Kiai omongannya! Padahal
sawahnya Pak Kiai juga dijual loh Dhe. Cuma tanahnya njenengan saja yang
belum,” seloroh Tukijan.
“Mendingan kalian urusi saja urusan kalian. Jangan ngurusi orang lain!”
Keduanya tertawa cekikian mendengar ucapan Sanip. “Pakdhe, apa Pakdhe
lupa kalau sikap Pakdhe itu sudah mengganggu urusan orang banyak? Coba
kalau Pakdhe segera menjual tanah itu, pasti proyek itu akan segera
dibangun dan otomatis kami-kami yang muda ini bisa langsung ikut kerja.
Ya to, Jan?” kata Sugondo.
Keduanya lantas saling pandang. Tatapan mereka menyiratkan ejekan. Sanip tak menghiraukan apa yang ia saksikan.
“Tak ada gunanya ngomong sama kalian.” Gerutu Sanip.
Lama-lama ejekan itu kian banyak berlontaran. Menghujam Sanip.
Buldozer itu kian dekat. Tubuh Sanip tetap tegap. Menantang.
Orang-orang proyek dibuat kebingungan. Pono, sang mandor proyek itu pun
kelimpungan. Mondar-mandir dengan handphone yang terus ditempelkan pada
daun telinga kanannya.
“Saya harus bagaimana, Bos? Si tua bangka itu susah diajak ngomong!” kata Pono.
“Sikat saja!” suara dari balik handphone itu terdengar keras.
“Waduh, nggak berani, Bos!”
”Lantas apa kerjanya aparat? Aku sudah mahal-mahal bayar mereka!”
bentak si pemilik suara dari balik handphone Pono terdengar bertambah
keras. Hampir-hampir mengalahkan suara bising mesin buldozer.
“Iya Bos! Saya akan urus mereka.” Handphone Pono ditutup. Pono melangkah mendekati komandan pasukan.
“Ada pesan dari Bos,” kata Pono.
Si komandan mengangguk. Tanpa ba-bi-bu, sebuah kode diarahkan pada mereka, pasukan keamanan. Pelan mereka mendekati Sanip.
“Bapak sebaiknya tidak melawan. Kami hanya menjalankan tugas,” kata salah seorang aparat kemanan itu.
“Siapa yang memberi kalian tugas? Atas nama siapa?!” gertak Sanip.
“Kami hanya menjalankan perintah, Pak.”
“Perintah negara atau perintah siapa?”
Pertanyaan Sanip kali ini terbiarkan begitu saja. Tak ada jawaban.
“Kalau memang perintah negara, negara yang mana?”
“Bapak sebaiknya bekerjasama dengan kami, Pak. Kami tidak ingin
menyakiti Bapak. Kami hanya ingin mengamankan Bapak. Percayalah!”
“Kalau kalian tidak ingin menyakiti saya, pernahkah dalam benak kalian
terpikir, seorang bapak tua seperti saya haruskah menangisi tanah
sawahnya karena tak ada lagi anak-anaknya yang mau menggarap sawah?
Bisakah kalian menyembuhkan sakit hati saya?”
“Maaf Pak, kami tak punya waktu. Kami harus membawa Bapak. Mengamankan Bapak.”
‘Selalu ada waktu, nak. Kalian masih cukup muda. Berpikirlah. Bukan
begini caranya membangun bangsa. Hanya manut pada perintah sementara
siapa yang memberi perintah tak jua jelas. Ayo, anak muda
berpikirlah!’—ucap lirih Sanip dalam hati—“Duh Gusti, apa tidak salah
telinga renta saya ini mendengar kata itu? Mengamankan? Mengamankan?
Apakah saya ini seorang teroris, perampok, atau bahkan pemberontak yang
harus diamankan? Jagad sudah kebalik-balik!”
“Tenang Pak, tenang. Kami mohon Bapak tenang. Kami hanya menjalankan perintah. Jadi,…”
“Bagaimana saya harus tenang? Sementara sawah saya, sawah mereka, dan
sawah-sawah yang lain terus saja diusik?! Mati-matian kami selalu
kerjar-kejar tikus, eh muncul tikus yang lebih besar, tikus raksasa,
tikus yang lebih ganas!? Apa tidak ada cara lain untuk membangun?
Kalian, anak-anak muda, yang dipelihara oleh negara, seharusnya kalian
tanyakan itu pada mereka. Ya, mereka yang duduk di atas singgasana.
Tanyakan itu!”
“Kami ke sini dengan niat baik, Pak. Tenang….tenang.”
“Kebaikan? Kebaikan buat siapa? Buat kami, atau buat mereka? Atau buat kalian?”
“Tolong, Pak, jangan bikin suasana semakin panik.”
“Merekalah yang membuat panik, anak muda. Kalian bacalah! Baca! Ini
negara nenek moyangmu! Bukan negara mereka! Ini tanah sawah kakek
buyutmu! Kenapa tak kau bela?!”
“Pak Sanip, kami datang ke sini
dengan baik-baik. Kami ngajak bicara Pak Sanip juga dengan baik-baik.
Tolong sekali lagi, Pak Sanip jangan memaksa kami bertindak keras pada
Bapak!”
“Silakan!”
“Baiklah kalau begitu. Pasukan!”
“Siap, ndan!”
“Paksa dia sekarang juga!”
“Siap! Laksanakan!”
“Tunggu!”
“Tahan!”
“Sebelum saya kalian bawa, ada satu permintaan.”
“Jangan membuat kami menunggu lagi, Pak Sanip!” pelan tangan kanan
Sanip membuka buntalan karung goni yang ia bawa dari rumah.
Dikeluarkannya sepasang sepatu bot usang.
Diangkatnya kini sepatu
usang itu tinggi-tinggi, sembari berucap, “Ini adalah sepatu bot
almarhum ayah saya. Inilah saksi bisu. Sepatu bot ini begitu lama dan
setia menemani ayah saya. Bahkan, sepatu inilah yang membawa ayah saya
maju ke medan perang. Lantas, setelah perang usai, ayah saya memilih
mundur dari barisan tentara. Baginya, tugas untuk memerdekakan negeri
ini telah dilunasi. Dan generasi berikutnyalah yang harus mengisinya.
Sejak saat itu, ayah saya memakai sepatu perangnya untuk menggarap
sawahnya. Ya, di sini. Sawah ini. Dan dia katakan pada saya waktu
itu—Inilah iman seorang pejuang! Pantang menyerah! Pantang merendahkan
martabat! Medan perang boleh saja disudahi! Senjata boleh saja
ditanggalkan! Tetapi medan perjuangan harus terus digulirkan, agar hidup
terus bergerak bagai ombak di tengah samudera! Hidup harus bermakna!
Tanah ini harus dipertahankan! Tanah ini harus dibela! Agar kelak anak
cucumu tidak lupa diri!—Karenanya, izinkan saya memberi penghormatan
terakhir pada sepatu ini, anak muda.”
Pelan-pelan Sanip meletakkan
sepasang sepatu itu di sisi kanan kedua lututnya yang menempel pada
tanah. Diambilnya beberapa kepal tanah, lalu dibuatnya gundukan kecil di
atas galengan sawah. Kini, tangan kanannya meraih bendera plastik dari
saku bajunya, kemudian ditancapkan bersama sebilah bambu kecil tepat di
tengah-tengah kedua sepatu itu. Sanip berdiri dengan sikap sempurna.
Menghormat pada bendera merah putih, sembari menyanyikan lagu Indonesia
Raya, Bagimu Negeri, Syukur, dan Gugur Bunga.
Setelah semua selesai, Sanip kembali melutut, lalu menunduk, dan mencium sepasang sepatu itu. “Maafkan saya, Rama.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar